Rabu, 23 April 2014

10 Tingkatan Hidayah Khusus dan Umum

10 Tingkatan Hidayah Khusus dan Umum

Pengertian dan Macam-Macam Hidayah Secara Umum

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu.
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah swt, sering kali kita melihat masih banyak manusia yang ingkar, menentang Allah Tuhan Pencipta, dan bahkan ada yang menolak keberadaan-Nya sedangkan mereka sendiri tinggal di atas bumi yang diciptakan-Nya? Dalam kondisi umat manusia saat ini yang sedang kehilangan pegangan dan petunjuk hidup, maka nilai Hidayah terasa sangat mahal. Karena dengan Hidayah itulah manusia bisa hidup mulia dan selamat di dunia dan di akhirat.
Untuk merasakan betapa mahalnya nilai sebuah Hidayah, paling tidak ada dua hal yang perlu kita ketahui tentang hidayah, yaitu pengertian Hidayah dan Macam-Macam Hidayah.
1. Pengertian Hidayah
Kata Hidayah adalah dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah : hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan. Khusus yang terakhir, kata hidaayatan kalau wakaf (berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan bahasa Indonesia. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : “Dholalah” yang berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Allah berfirman yang artinya:
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (Q.S. Al-Baqarah: 5)
2. Macam-Macam Hidayah
Para Ulama besar Islam telah menjelaskan dengan rinci dan mendalam perihal Hidayah/Hudan, khususnya yang diambil dari Al-Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya “Al-Asybah wa An-Nazho-ir”, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya “At-Tashoriif”, As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon” dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya “Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”.
Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits. Sedangkan pengertian Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan, menegakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.
Dari 27 pengertian tersebut di atas, sesungguhnya Hidayah secara umum, terbagi menjadi empat bagian utama, yaitu:
a. Hidayah I’tiqodiyah (Petunjuk Terkait Keyakinan Hidup)
Allah berfirman, yang artinya:
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl : 37)
dan Allah juga berfirman, yang artinya:
“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk (hidayah) kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya)”. (Q.S. Al-Mu’min: 28)
b. Hidayah Thoriqiyah (Petunjuk Terkait Jalan Hidup, yakni Islam yang didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw)
seperti firman Allah, yang artinya:
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (Q.S. Al-Hajj: 67)
atau seperti firman Allah, yang artinya:
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk (Islam/ Al-Qur’an) kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Q.S. Annajm: 23)
c. Hidayah ‘Amaliyah (Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup)
seperti firman Allah, yang artinya:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)
d. Hidayah Fithriyah(Fitrah).
Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta, mentauhidkan-Nya dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka. Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri. Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firmannya:
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. (Q.S. Al-An’am: 77)
Kesimpulan:
Tanpa Hidayah mustahil kita bisa selamat di dunia dan akhirat. Semoga Allah membantu dan menolong kita dalam memahami betapa mahalnya nilai Hidayah dan mensyukuri Hidayah yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Dan semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Allah himpunkan kita di tempat yang mulia. Allahumma amin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Copas http://onlinehidayah.wordpress.com/

Batak bukan Agama, Batak adalah Budaya



Daging Babi Bukan Komponen Adat Batak


[batak news; tempo; bedakan batak dengan agama]
Dari sebuah seminar di tahun 1983.
Berikut tulisan yang diambil Batak News dari majalah Tempo edisi tempo dulu, 1983. Yang beragama Islam tidak akan lagi menghadapi daging babi. Bupati Tapanuli Tengah, Lundu Panjaitan, optimistis warga di wilayahnya, yang 50% Kristen, tidak lagi akan menghadang saudara-saudaranya yang muslim dengan hidangan itu. Sebuah seminar adat yang diarahkan Panjaitan, di Balai Desa Pandan, 376 km dari Medan, menyimpulkan bahwa “daging babi bukan komponen mutlak adat Batak”.
Pesta adat di Tapanuli Tengah, yang seimbang perbandingan warganya (170.000 jiwa) antara yang Islam dan Kristen, memang sering bikin kecewa. Kaum parsubang (muslim, plus mereka yang alergi atau pantang babi) bila menghadiri pesta keluarga Kristen tak diberi makan dalam rumah. Mereka di’jiran’, rumah keluarga Islam yang ‘dititipi’.
Bupati yang beragama Kristen itu pernah menerima keluhan Haji M. Pardede, 52 tahun. Pardede, pemuka adat Desa Simanosor tahun 1981 diundang keluarga mempelai wanita (anak boru) yang beragama Kristen dalam acara masuk rumah baru. Karena dalam rumah hajatan itu terhidang daging yang diantangkannya, ia kecewa sekali tak bisa ikut masuk rumah baru itu.
Kisah lain dituturkan Bupati: pengalaman Ketua DPRD Tapanuli Tengah, Dangol Tobing. Tahun 1977 Tobing menerima undangan pesta pembayaran perkawinan dari pihak anak boru yang Kristen. Melihat hidangan babi, Tobing ini spontan marah. Pesta adat dianggapnya batal, malah mengandung unsur menghina, katanya. “Soal-soal semacam itulah yang mendorong saya melakukan seminar ini,” tutur Bupati yang berani mengeluarkan biaya Rp 5 juta untuk kumpul-kumpul itu.
Mula-mula ada belasan orang dari 200 peserta, yang keras mempertahankan makanan kelaziman itu. Namun argumen mereka dianggap tidak sekuat pandangan yang diberikan penasihat borbor (persatuan marga) di Tapanuli Tengah, Ungkap Tua Sipahutar, dan Pendeta A. Saragih.
Berpegang pada Alkitab, Pak Pendeta, 61 tahun, malah mengatakan: “Perjanjian lama melarang umat memakan daging babi. Injil atau Perjanjian Baru tak melarang umat Kristen memakan segala jenis hewan. Namun dalam Kisah Para Rasul, umat Kristen dinasihati untuk tidak mengecewakan orang lain.” Sedang main catur saja, yang juga satu kebiasaan harian orang Batak, menurut Saragih harus dihentikan bila banyak orang menganggapnya cuma menghabiskan waktu.
Adat Batak sebenarnya “fleksibel” menurut Ungkap Tua Sipahutar, 56 tahun. “Boi do pinahan lobu ditabasi dohot hambing,” petuah ompung (kakek) yang beragama Kristen itu. Niat menghidangkan daging babi bisa saja diganti dengan hidangan daging kambing, ayam, ikan atau telur ayam. Itu artinya, “Kebiasaan menghidangkan daging babi itu hanya terdorong oleh selera atau gengsi.”
Bupati, sebagai moderator, menimpali, “Orang yang tidak makan daging babi tetap konsisten dengan adat Batak. Apakah pahlawan nasional Sisingamangaraja tak memakai adat Batak karena dia pemeluk Parmalim yang memantangkan daging babi. Begitu pula umat Islam di Tapanuli Tengah ini.”
Semuanya digali dari adat dan dirumuskan “selaras dengan Pancasila”. Maka 13 rumusan pun tercapai. “Syukur bisa lempang,” komentar Maulud Simatupang, pemuka adat Sumando Pesisir — kaum muslim Tapanuli Tengah. Toh Bupati menganggap langkahnya belum selesai. “Niat saya membuat lokakarya lagi untuk mempersatukan adat Sumando dari kalangan warga pesisir Tapanuli Tengah yang muslim dengan adat Batak pedalaman yang Kristen,” katanya. Sebab adanya perbedaan itu dirasakan seolah sebagai tanda bahwa Tapanuli Tengah belum punya identitas adat yang khas.
Padahal kerukunan sesama warga negara di daerah ini sudah teruji. Pada perayaan HUT Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sibuluan, awal Februari lalu, panitianya justru lebih banyak yang Islam, kata Lundu Pandjaitan. “Dan hasil aksi dana HUT gereja itu pun sebagian disumbangkan untuk delapan masjid di kawasan itu. Inilah pengamalan P4 secara nyata.” [http://www.blogberita.com]
CATATAN BATAK NEWS:
Inilah yang kusebut sebagai toleransi beragama. Di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, hubungan warga muslim dan nasrani hingga hari ini memang terkenal sangat harmonis. Mereka saling bantu ketika umat lain hendak merayakan hari besar agama mereka. Dan inilah juga hal yang kuharapkan dengan menulis artikelku tiga hari lalu itu — yang mana sebagian dari engkau merasa tak butuh umat lain.
Beberapa hari lalu aku chat dengan seorang bloger, Batak muslim di Jakarta. Ia masih lajang dan aktif dalam organisasi “naposobulung” [generasi muda] Batak. Tapi ia minoritas, karena hampir semua rekannya di organisasi itu adalah nasrani.
“Kadang sedih sekali hatiku, Bang. Kalau ada acara pesta atau semacam rapat, mereka sama sekali tidak menyiapkan makanan untuk ‘parsubang’ [makanan halal],” katanya.
Masihkah engkau mau menyangkal itu? Aku sendiri pun sering merasakannya, terutama ketika aku masih tinggal di perantauan. Dan dengan hati yang sedih, aku dan istriku terpaksa membeli nasi dari warung muslim.
Semoga dengan artikel seminar di atas, kita sekalian, orang Batak, bisa membedakan mana urusan adat dan mana urusan agama. Batak tak harus nasrani. Batak bukan agama. Batak adalah budaya. 

Copas http://www.jararsiahaan.com/